Rabu, 19 Oktober 2016

Nadran Gunung Jati Cirebon

Sedekah Bumi/Nadran Gunung Jati 15 Oktober 2016.

  Kalian pasti mau tau kan gimana tentang Nadran kali ini?mungkin kalian tidak sempat menonton karena kejebak macet atau ada urusan?kali ini saya akan memberi tahu kepada kalian nih gimana berjalan dan selesai nya tapi ini setahu saya aja guys maaf kalau kurang komplit?hehe.
  Sebelum Nadran dimulai pasti smua nya pasti udah ada yg buat rangka-rangka nya yakan?nahh mnurut saya saat itu smua nya pada kompak membuat Nadran solidaritas teman sangat tinggi saling membantu satu sama lain dari mulai memberi kertas,mengecat sampai mendorong gerobak nya.
  Setelah tnggal 15 oktober 2016 smua nya yg buat Nadran pada berkumpul di Lapangan Parkir Gunung Jati ada yg dari Klayan,VillaIntan,Jadimulya,Jatimerta,kalisapu,dan dari Gunung Jati nya sendiri. Nadran ini di mulai siang,setelah balon di terbangkan smua nya pda mendorang buatan nya masing2 dari Gunung Jati sampai bunderan Gedung Negara. Menurut saya Nadran kali ini ramai tidak rusuh aman lahh sipp,dan Nadran kali ini macam2 ada yg membuat Naga,PaksiNagaLiman,Harimau,Kerbau,SiLumping,Krisna,Tumpeng,Grifin(campuran burung dan naga),Tank,Dll.
Pada saat sore hari menjelang magrib smua nya berkumpul lagi di Gunung Jati. Nahh yg saya suka pada saat itu tidak smua nadran ada yg menyalakan lampu2 nya untuk memberi kreasi lbih hidup/menarik. Saat juri memberi nilai,nilai itu di kumpulkan lalu siapa yg membuat Nadran yg paling bagus atau menarik itulah yg akan mendapat kan hadiah. Menurut orang-orang bilang guys yg mendapat juara 1 yaitu putri ong tin yg di buat dari masyarakat skitar Gunung Jati nya sendiri,yg mendapat kan juara 2 yaitu paksi naga liman yg di buat oleh masyarakat klayan.
  Mungkin hanya itu informasi yg saya dapat kan kurang lebih nya saya mohon maaf apabila ada kesalahan kata yg tidak di sengaja,Trimakasih guyss:)

Selasa, 06 September 2016

ASAL USUL DESA KLAYAN

Pada zaman dahulu kala tersebutlah patih Danalaya dari kerajaan Pajajaran yang diutus oleh raja Pajajaran bernama Prabu Siliwangi untuk menemui seorang ulama di Cirebon bernama Syeh Datul Kahfi. Patih Danalaya diutus menemui Syeh Datul Kahfi dengan tujuan untuk memperingatkan ulama itu supaya berhenti menyebarkan agama Islam di wilayah kekuasaan kerajaan Pajajaran. Sesampainya di tempat kediaman Syeh Datul Kahfi, Patih Danalaya pun mengutarakan maksudnya kenapa datang menemuinya. "Saya datang kesini karena diutus oleh Prabu Siliwangi supaya kisanak berhenti menyebarkan agama Islam di wilayah kekuasaaan Pajajaran." Bukannya mengiyakan, dengan sopan Syeh Datul Kahfi malah mengajak patih Danalaya untuk ikut memeluk agama Islam sambil menerangkan tentang kemuliaan agama Islam. Tentu saja Patih Danalaya menjadi kebingungan dan serba salah. Kalau ia tak berhasil mencegah ulama itu untuk berhenti menyebarkan agama Islam maka ia pasti akan dihukum oleh Prabu Siliwangi, tapi di lain sisi ia pun tak tega untuk memaksakan kehendaknya dengan menggunakan kekerasan karena ulama itu begitu sopan kepadanya. Ditengah-tengah kebimbangan hatinya, patih Danalaya pun memutuskan untuk menolak dengan halus tawaran ulama tersebut untuk memeluk agama Islam dan berniat untuk bersemedi saja di tengah hutan. Setelahnya mengutarakan maksudnya itu Patih Danalaya pun pamit untuk melaksanakan niatnya bertapa di tengah hutan. Beberapa bulan kemudian, Mbah Kuwu Cerbon mendengar bahwa ditengah hutan ada seorang pandita sakti yang sedang bertapa. Kuwu Cerbon yang sebelumnya telah menyamar dengan mengganti nama menjadi Ki Gemu pun mendatangi sang pandita sakti itu dengan maksud untuk mengislamkan pandita hindu tersebut. "Ada apa dan siapakah gerangan kisanak ini hingga berani mengganggu semediku?" Tanya Ki Patih Danalaya. "Namaku Ki Gemu. Maksud dan tujuanku kesini adalah untuk mengajak kisanak memeluk agama Islam." Kata Kuwu Cerbon. "Kalau seandainya aku menolak, apa yang akan Kisanak lakukan?" "Kalau menolak, silahkan kisanak untuk meninggalkan tempat ini karena ini adalah daerah islam." Tandas ki Gemu. Karena merasa tersinggung, akhirnya patih Danalaya pun menyerang Ki Gemu dan pertrungan pun tak terelakan lagi. Kedua kesatria yang sama-sama berilmu tinggi itu saling menyerang dan berusaha mengalahkan lawannya. Malaikat maut mengawasi cemas, memastikan pada siapa maut akan berpihak. Setelah beberapa lama akhirnya Patih Danalaya harus mengakui kehebatan Ki Gemu dan bersedia untuk meninggalkan tempat itu karena beliau tetap tak mau masuk agama islam. Patih Danalaya yang tak berani untuk kembali ke pajajaran karena takut dihukum oleh Prabu Siliwangi atas kegagalannya mengemban tugas akhirnya memilih untuk pergi berkelana tak jelas arah dan tujuan yang oleh masyarakat Cirebon disebut sebagai Lunga kelaya-laya. Dari kata Kelaya-laya inilah kemudian tempat semedi patih Danalaya pun dibuka menjadi sebuah pedukuhan (Desa) dengan nama Klayan... Dan Gunung jati yang berdekatan dengan Klayan mempunyai ksenian yaitu Sedekah Bumi/Nadran yang diadakan setiap satu tahun sekali untuk mempringati akan datang nya musim hujan. Mungkin itu saja yang bisa saya sampaikan guys trimkasih kalian telah membaca Asal Usul Desa Klayan...Maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan Trimakasih:)